Jumat, 31 Juli 2015

HEGEMONI GLOBALISASI DAN WESTERNISASI ANCAMAN TERHADAP BUDAYA NASIOAL




Pendahuluan
          Dunia  internasional  sekarang sangat dipengaruhi   oleh globalisasi. Semakin  menyempitnya  dunia  akibat  perkembangan teknologi, telekomunikasi, dan transportasi  memunculkan kecenderungan individu dan kelompok  serta sistem  sosial  yang  melewati bahkan  menghapus  batas  tradisional negara,hal ini selain menjadi hal positif bagi dunia pendorong dan pelopor globalisasi juga adalah merupakan tantangan bagi negara-negara  berkembang  dalam  segala aspek kehidupan baik politik,ekonomi,pendidikan ,sosial dan juga budaya termasuk  aspek  kehidupan lainya. Oleh karena itu berdasarkan pemikiran dasar tersebut  maka  mencermati  berbagai fenomena  dan  deskripsi dari arus globalisasi menjadi sangat penting untuk dikaji dan ditelaah untuk dijadikan pertimbangan  dalam  rangka  tetap  mempertahankan  eksistensi budaya lokal yang  berhaluan budaya ketimuran dan budaya nasional
            Negara Indonesia yang masih termasuk negara berkembang sangat dimungkinkan dipengaruhi oleh budaya  asing  yang  berasal dari luar bahkan  lebih jauh  kemungkinan  terjadi  disparitas  budaya  atas  dominasi budaya asing termasuk  arus westernisasi dan globalisasi sangat besar.Dengan demikian perlunya  adanya upaya  yang  progresif  dalam usaha  memberikan konservatif atas  budaya  lokal .namun  sekalipun  demikian  bukan  berarti  kita harus menutup  diri dari  perkembangan  budaya  akan  tetapi pengembangan budaya  yang  sesuai  dengan  budaya  dan  krakter  atau ciri khas tetap dapat diterima. Selain  itu pula  pengembangan  budaya lokal  sudah  seharusnya  dilakukan  karena secara konstitutif pun budaya  lokal dijamin eksistensinya untuk dapat dikembangkan  baik  melalui  masyarakat  maupun dunia pendidikan sebagai sarana yang sangat tepat dalam pengembangan budaya itu  sendiri.
A.    Hakikat  Globalisasi  dan  Westernisasi Sebagai Bentuk Peradaban Baru Bagi Dunia Kontemporer
Globalisasi adalah  suatu proses tatanan masyarakat  yang mendunia dan tidak  mengenal  batas  wilayah.Globalisasi  pada  hakikatnya  adalah  suatu  proses dari gagasan  yang dimunculkan, kemudian  ditawarkan  untuk  diikuti  oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi  pedoman bersama bagi bangsa- bangsa  di seluruh dunia. (Menurut La Rianda.2012) Globalisasi ditandai  oleh  ambivalensi  yaitu  tampak  sebagai berkah disatu sisi tetapi sekaligus  menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus  menjadi “kepedihan” di pihak  lainnya. Sejalan  pendapat  diatas (husaini 2002)Globalisasi juga  didefinisikan   sebagai  semua proses yang  merujuk kepada penyatuan  seluruh  warga  dunia  menjadi  sebuah  kelompok masyarakat global. Namun, pada  kenyataannya  globalisasi  merupakan  penyatuan semu, karena  nilai-nilai ekonomi, sosial, dan budaya didominasi nilai-nilai yang sebenarnya asing bagi masyarakat dunia.
Globalisasi sering diterjemahkan mendunia Suatu entitas yang bagaimana pun akan  dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia, baik berupa ide, gagasan, data, informasi, produksi, pembangunan, pemberontakan, dan sebagainya, begitu disampaikan, saat itu pula diketahui  oleh  semua orang di dunia.
Ita Radiah 2001) kekuatan  globalisasi  menurut  analisis para ahli  pada  umumnya  bertumpu pada 4 kekuatan global, yaitu:
a.       Kemajuan  iptek terutama  dalam  bidang  informasi dan inovasi-inovasi baru di dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia.
b.      Perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan iptek.
c.        Kerjasama regional dan internasional yang telah menyatukan kehidupan bersama dari bangsa-bangsa tanpa mengenal batas negara.
d.      Meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia di dalam kehidupan bersama, dan sejalan dengan itu semakin meningkatnya kesadaran bersama dalam alam demokrasi.
Berdasarkan pendapat tersebut maka  globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.Globalisasi  adalah suatu   keadaan di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.Dalam banyak hal, globalisasi  mempunyai banyak  karakteristik yang  sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini  sering dipertukarkan. Sebagian pihak  sering  menggunakan istilah globalisasi  yang  dikaitkan dengan  berkurangnya  peran negara atau batas-batas negara.dengan demikian maka besar kemungkinan  tatangan budaya  nasional untuk semakin tereliminasi dengan pengaruh globalisasi yang cukup besar.
B.     Dinamika Globalisasi dan Westernisasi Sebagai Ancaman Budaya Lokal
Pada penjelasan  sebelumnya  mengenai  Globalisasi terlihat sangat umum dan merupakan  fenomena  berwajah  majemuk, globalisasi sering  diidentikkan  dengan: Internasionalisasi, Liberalisasi(borderlessworld)Universalisasi,Westernisasi, De-teroterialisasi, menurut  penulis terlepas dari beberapa istilah yang dipersamakan  dengan  globalisasi  tetap  saja  yang harus  menjadi fokus  perhatian  adalah mengenai tantangan dari globalisasi itu sendiri  untuk di antisipasi dalam upaya peningkatan integrasi bangsa dan negara.maka dengan demikian  perlu  mengidentifikasi  ancaman  globalisasi  atau  pun  nama istilah lain yang digunakan untuk mempersamakan dari globalisasi tersebut. Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu negara dengan negara lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian, kecenderungan  munculnya  disparitas budaya dan kesenjangan budaya sangat besar .Masalah-masalah tersebut  berpengaruh  terhadap  nilai-nilai budaya  bangsa  yang selama ini dijunjung tinggi. Efek lainnya adalah globalisasi dapat memberikan efek negatife  bagi budaya-budaya leluhur di Indonesia. Dengan adanya  globalisasi waktu, jarak, wilayah  bukan  lagi menjadi halangan, khususnya pada  dunia hiburan,lebih jauh lagi efek globalisasi sangat jelas dapat dirasakan:  antara lain
a.kehidupan yang bersifat Individualis Pragmatis
Bangsa Indonesia pada dasarnya merupakan bangsa yang masyrakatnya cinta  kebersamaan  dan rasa kegotongroyongan  serta  memiliki tenggang  rasa dan solidaritas tinggi  akan tetapi seiring berjalanya waktu dan pengaruh budaya dari luar terjadi  ketimpangan  atau  disparitas budaya.Hal tersebut didasarkan  pada  mulai  timbulnya  sifat individualistis di masyarakat, minimnya tenggang rasa  dan  semangat  gotong royong padahal sebelumnnya  banyak negara lain mengenal budaya  masyarakat  Indonesia sangat  ramah  tamah  sebelumnya. Belum lagi semangat kegotong royongan yang semakin hilang ditengah kehidupan yang dapat dipenuhi dengan menggunakan uang dan teknologi mesin kondisi ini menjadi sangat memprihatinkan ketika kita mengingat  kehidupan leluhur bangsa Indonesia,
b.kehidupan Konsumeristik dan Hedonis
Di satu sisi, globalisasi membawa dampak yang positif bagi masyarakat, namun disisi lain globalisasi dapat menimbulkan dampak negatif seperti dis-orientasi, dislokasi, atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat, serta semakin merebaknya gaya hidup konsumerisme dan hedonism saat ini, konsumerisme tidak hanya terjadi di perkotaan, namun sudah merambah ke pedesaan. Perilaku konsumtif anak-anak berdampak pada pergeseran gaya hidup (lifestyle) yang dapat berpengaruh pada kepekaan sifat sosial mereka, sehingga cenderung mengabaikan dan tidak peduli dengan lingkungan sosial. Gaya hidup hedonis yang juga merupakan suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup seperti senang membeli barang mahal yang disenanginya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian timbul seiring munculnya budaya Konsumerisme. Sebagai bagian dari masyarakat yang berorientasi pada konsumsi, masyarakat dan remaja tidak saja memenuhi kebutuhannya sesuai apa yang menjadi kebutuhanya. Namun kenyataanya, mereka mengkonsumsi sesuatu bukan dari segi fungsionalnya melainkan tren yang sedang berkembang.  Dengan budaya konsumerisme ini,  tidak  banyak  tersedia  ruang  untuk anak lebih  kreatif  dan  menciptakan  sesuatu, namun mereke cenderung untuk berperilaku konsumtif.
c.Dekadensi Moral dan Dehumanisasi
Dekadensi moral di kalangan manusia di era globalisasi baik itu positif ataupun negatif, itu semua sudah menjadi hal yang umum di tengah-tengah masyarakat sekarang. anak-anak muda  mudah mengalami dekadensi moral, banyak faktor penyebabnya diantaranya media informasi, seperti media cetak dan media elektonik ini yang berpengaruh besar jika disalah gunakan mulai dari televisi,internet,dsb. Contoh tayangan televisi yang bertema dunia sekolah, bukanya mengajak penonton dikalangan remaja untuk giat belajar melainkan mengajari cara bersaingan dalam berpacaran,hura-hura,dan pergaul bebas, Dimulai dari hal yang terkecil pada berbicara,berpakaian,dst, yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia hal itu akan mengurangi keimanan dan berpindah agama karena ingin mengikuti trend budaya luar. Budaya luar yang bertolak belakang dengan kepribadian orang muslim yang telah mempengaruhi budaya lokal yang dulu telah menjunjung tinggi moral agama. Salah satunya adalah “trend fashion ala Korea” yang pengikutnya sebagian besar orang muslim dari cara berpakaian yang menyimpang sampai hal yang negatif, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja atau pun tidak sengaja yang telah menyebar luaskan hal-hal yang merusak moral, sementara ini pencegahanya terletak dari diri kita sendiri.Hendri Priono 2014).Kemerosotan moral ini sudah tersebar diseluruh penjuru mulai dari kota sampai ke plosok desa akibat budaya negatif dari luar.hal ini adalah salah satu potret pengaruh globalisasi. Pada kenyataannya terjadi dehumanisasi Secara semantik, dehumanisasi terjadi tatkala nilai-nilai luhur yang ada dalam teks ideologi, budaya dan agama tidak lagi berfungsi efektif sebagai pegangan hidup manusia sehari-hari, sehingga kebudayaan kehilangan dukungan kolektif dan manusia cenderung hidup tanpa basis keluhuran kebudayaan. Dalam habitat seperti itu, manusia cenderung berperilaku sebagai serigala satu terhadap yang lain. Moral dan etika kehidupan sangat rapuh, jati diri tidak terarah dan martabat berkembang makin nihil. Kehidupan mengalami kevakuman kultural. Fisik, rasio, rasa dan hati nurani tidak dalam kondisi seimbang. Dalam kasih sayang terjadi dehumanisasi karena seseorang itu sudah tidak memiliki nilai dan moral, sehingga tidak ada lagi kasih sayang. Maka terjadilah pembunuhan antara anak dan ibu, padahal sejatinya seorang ibu tidak akan mungkin membunuh anak kandungnya sendiri.
d.lunturnya budaya musik dan seni tradisonal
Lunturnya musik-musik tradisional, lunturnya budaya Indonesia dalam film-film lokal, minimnya pentas seni lokal jika dibandingkan dengan pentas seni kontemporer modern adalah merupakan bentuk dampak nyata dari hegemoni globalisasi .Hal tersebut mencerminkan bahwa, globalisasi dapat dengan mudah mengubah nilai-nilai budaya  yang  sudah ada sebelumnya. Pada masyarakat, hal ini tentu sangat membahayakan.
Munculnya arus globalisme yang dalam hal ini bagi sebuah negara yang sedang berkembang akan mengancam eksistensinya sebagai sebuah bangsa.Sebagai  bangsa  yang  masih  dalam  tahap  berkembang kita memang tidak suka  dengan globalisasi tetapi kita tidak bisa menghindarinya. Persoalan utama Indonesia dalam mengarungi lautan global ini adalah masih banyaknya kemiskinan, kebodohan  dan  kesenjangan  sosial  yang masih  lebar. Dari beberapa persoalan  diatas  apabila kita  mampu  memaknai kembali Pancasila  dan kemudian dimulai dari diri kita masing-masing untuk bisa menjalankan dalam kehidupan sehari-hari, maka globalisasi akan dapat kita arungi dan keutuhan  NKRI masih bisa terjaga.
C.     Konservatif  Budaya Lokal sebagai Salah Satu Alternatif Menghadapi  Ancaman Globalisasi dan Westernisasi
            Perspektif  global merupakan  pandangan  yang  timbul dari kesadaran bahwa dalam kehidupan ini segala sesuatu selalu berkaitan dengan isu global. Orang  sudah  tidak  memungkinkan lagi bisa mengisolasi diri dari pengaruh global. Manusia  merupakan  bagian  dari pergerakan dunia, oleh karena itu harus memperhatikan kepentingan sesama warga dunia. Tujuan umum pengetahuan tentang perspektif global adalah selain untuk menambah wawasan juga untuk menghindarkan  diri dari  cara  berpikir sempit, terkotak  oleh batas-batas subyektif, primordial (lokalitas) seperti perbedaan warna kulit, ras, nasionalisme yang  sempit, dan  sebagainya.Namun  demikian  kita  tetap  harus menjaga identitas  dan  kebudayaan   lokal  yang  menjadi  ciri  khas dari bangsa kita  karena ketika terjadi ketidakseimbangan  antar  dua  peradaban  yang  berbeda maka upaya mempertahankan  identitas diri menjadi sebuah  keniscayaan. Oleh karena itu pentingnya lembaga pendidikan untuk dijadikan sarana dalam melindungi budaya dan identitas nasional untuk menjadi perhatian utama setiap warga negara.selain dari pada itu out put dari lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang kreaktif,inonovatif dan kompetitif.

D.    Mengoptimalkan Fungsi Keluarga Sebagai Wahana Pembentukan Karakter Religius
 Peranan pranata keluarga dalam membentuk karakter dan pemahaman nilai-nilai budaya adalah sangat penting karena lingkungan keluarga menjadi tempat pertama seseorang mendapatkan pendidikan.Dengan mengoptimalkan peranan lembaga keluarga tersebut maka seseorang akan mampu memperoleh bekal pengetahuan yang dapat dijadikan filterisasi dalam membangun dan menjalani kehidupan sosialnya ditengah arus globalisasi.Selain itu  pembekalan nilai-nilai religius dalam keluarga akan menjadikan seseorang bersikap kritis dalam berbuat dan bertingkahlaku dalam masyarakat.Sehingga dengan demikian  ditengah keluargalah yang menjadi harapan utama agar nilai-nilai budaya ketimuran masih dapat diselamatkan.Kondisi demikian mengambarkan betapa pentingnya pranata keluarga dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkarakter dengan jiwa nasionalisme yang tinggi dan berjiwa pancasilais.



Penutup
Perlunya strategi yang tepat untuk menghadapi globalisasi dengan gaya kapitalis dan liberalis yaitu Indonesia harus memiliki system pemerintahan yang kuat dengan strategi yang jelas dan memberlakukan hukum yang mengikat kuat pada individu, masyarakat serta membuat kesepakatan dengan negara-negara asing dalam melakukan hubungan kerjasama yang jelas tanpa adanya ketimpangan kebijaksanaan yang  justru merugikan satu negara dan menguntungkan negara lain dalam melakukan  kerja sama, dengan memberikan banyak persyaratan-persyaratan kepada negara  Indonesia sebagai negara penerima bantuan pinjaman dari para pengusung gaya  kapitalis tsb. Strategi hukum yang tepat untuk mengikat pengaruh  globalisasi  dengan  gaya  kapitalis  dan liberalis dengan kebebasan tanpa batasnya, maka perlu adanya aturan-aturan yang tertulis dan mengikat akibat pengaruh globalisasi yg kebablasan tanpa batas yaitu dengan mengembalikan kehidupan yang pancasilais Dan itu merupakan kata-kata ampuh untuk meredam semua  kekacauan-kekacauan yang diakibatkan oleh pengaruh globalisasi dan mengikat  individu  masyarakat Indonesia yang  multikultural yang  merupakan kunci maju atau mundurnya bangsa Indonesia saat ini.








DAFTAR PUSTAKA
Husaini,Adian et al.2004.Tantangan Sekularisme dan Liberalisasi di Dunia Islam.Surabaya:Khairul Bayan
La Rianda.2012.Kawasan Ekonomi Khusus dan Sistem Kapitalisme Global:Domain Ketergantungan dan Kemiskinan Anak Bangsa.Kendari:Unhalu Press
Priono, Hendry.masa depan yang sempurna . www,http.m detik com diakses tanggal 6 maret 2014
Radiah,Ita.2001.kapitalisme liberal cengkraman Negara berkembang.rajawali pers.
Saiful,2010.budaya barat terhadap lunturnya budaya lokal.www,http.roket com diakses tanggal 8 maret 2014





Tidak ada komentar:

Posting Komentar