Pendahuluan
Dunia internasional sekarang sangat dipengaruhi oleh
globalisasi. Semakin menyempitnya dunia akibat
perkembangan teknologi, telekomunikasi,
dan transportasi memunculkan
kecenderungan individu dan kelompok
serta sistem sosial yang melewati
bahkan menghapus batas tradisional
negara,hal ini selain menjadi hal positif
bagi dunia pendorong dan pelopor globalisasi juga adalah merupakan tantangan
bagi negara-negara berkembang dalam segala
aspek kehidupan baik politik,ekonomi,pendidikan ,sosial dan juga budaya
termasuk aspek kehidupan lainya. Oleh karena itu berdasarkan
pemikiran dasar tersebut maka mencermati berbagai fenomena dan deskripsi
dari arus globalisasi menjadi sangat penting untuk dikaji dan ditelaah untuk
dijadikan pertimbangan dalam rangka tetap
mempertahankan eksistensi budaya lokal yang berhaluan budaya ketimuran dan budaya nasional
Negara Indonesia yang masih termasuk
negara berkembang sangat dimungkinkan
dipengaruhi oleh budaya asing yang berasal
dari luar bahkan lebih jauh kemungkinan
terjadi disparitas budaya
atas dominasi budaya asing
termasuk arus westernisasi dan
globalisasi sangat besar.Dengan demikian perlunya adanya upaya
yang progresif dalam usaha memberikan konservatif atas budaya lokal
.namun sekalipun demikian bukan berarti
kita harus menutup diri dari perkembangan
budaya akan tetapi pengembangan budaya yang sesuai dengan
budaya dan krakter
atau ciri khas tetap dapat diterima. Selain itu pula pengembangan budaya lokal sudah seharusnya dilakukan karena secara konstitutif pun budaya lokal dijamin eksistensinya untuk dapat
dikembangkan baik melalui masyarakat maupun dunia pendidikan sebagai sarana yang
sangat tepat dalam pengembangan budaya itu
sendiri.
A. Hakikat Globalisasi
dan Westernisasi Sebagai Bentuk
Peradaban Baru Bagi Dunia Kontemporer
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.Globalisasi
pada hakikatnya adalah suatu
proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan
untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada
suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut La Rianda.2012) Globalisasi ditandai oleh
ambivalensi yaitu tampak sebagai
berkah disatu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai
“kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya. Sejalan pendapat diatas (husaini 2002)Globalisasi juga didefinisikan sebagai semua proses yang merujuk kepada penyatuan seluruh
warga dunia menjadi
sebuah kelompok masyarakat
global. Namun, pada kenyataannya globalisasi
merupakan penyatuan semu, karena nilai-nilai ekonomi, sosial, dan budaya
didominasi nilai-nilai yang sebenarnya asing bagi masyarakat dunia.
Globalisasi sering diterjemahkan mendunia Suatu entitas yang bagaimana
pun akan dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok
dunia, baik berupa ide, gagasan, data, informasi, produksi, pembangunan,
pemberontakan, dan sebagainya, begitu disampaikan, saat itu pula diketahui oleh semua orang di dunia.
Ita Radiah 2001)
kekuatan globalisasi menurut analisis para ahli pada umumnya
bertumpu pada 4 kekuatan global, yaitu:
a. Kemajuan iptek terutama dalam bidang
informasi dan inovasi-inovasi baru di
dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia.
b. Perdagangan bebas yang ditunjang
oleh kemajuan iptek.
c. Kerjasama regional dan internasional yang
telah menyatukan kehidupan bersama dari bangsa-bangsa tanpa mengenal batas
negara.
d. Meningkatnya kesadaran terhadap
hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia di dalam kehidupan bersama, dan
sejalan dengan itu semakin meningkatnya kesadaran bersama dalam alam demokrasi.
Berdasarkan
pendapat tersebut maka globalisasi adalah keterkaitan dan
ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui
perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi
yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin
sempit.Globalisasi adalah suatu keadaan di mana antar individu, antar
kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan
mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.Dalam banyak hal,
globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua
istilah ini sering dipertukarkan.
Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang
dikaitkan dengan
berkurangnya peran negara atau
batas-batas negara.dengan demikian maka besar kemungkinan tatangan budaya nasional untuk semakin tereliminasi dengan
pengaruh globalisasi yang cukup besar.
B. Dinamika Globalisasi dan Westernisasi Sebagai Ancaman Budaya Lokal
Pada penjelasan
sebelumnya mengenai Globalisasi terlihat sangat umum dan
merupakan fenomena berwajah
majemuk, globalisasi sering diidentikkan dengan: Internasionalisasi, Liberalisasi(borderlessworld)Universalisasi,Westernisasi, De-teroterialisasi, menurut
penulis terlepas
dari beberapa istilah yang dipersamakan dengan globalisasi tetap saja yang harus menjadi fokus
perhatian adalah mengenai tantangan dari globalisasi itu
sendiri untuk di antisipasi dalam upaya
peningkatan integrasi bangsa dan negara.maka
dengan demikian perlu mengidentifikasi ancaman
globalisasi
atau
pun nama istilah lain yang digunakan untuk
mempersamakan dari globalisasi tersebut. Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat
antara satu negara dengan negara lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian,
kecenderungan munculnya disparitas budaya dan kesenjangan
budaya sangat besar .Masalah-masalah
tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang selama ini
dijunjung tinggi. Efek lainnya adalah globalisasi dapat memberikan efek negatife
bagi budaya-budaya leluhur di Indonesia.
Dengan adanya globalisasi waktu, jarak, wilayah bukan lagi menjadi
halangan, khususnya pada dunia hiburan,lebih jauh lagi efek globalisasi sangat jelas dapat
dirasakan: antara lain
a.kehidupan
yang bersifat Individualis Pragmatis
Bangsa Indonesia pada dasarnya merupakan bangsa yang
masyrakatnya cinta kebersamaan dan rasa kegotongroyongan serta memiliki tenggang rasa dan solidaritas tinggi akan tetapi seiring berjalanya waktu dan
pengaruh budaya dari luar terjadi ketimpangan
atau disparitas budaya.Hal
tersebut didasarkan pada mulai timbulnya
sifat
individualistis di masyarakat, minimnya tenggang rasa dan semangat gotong royong padahal sebelumnnya banyak negara lain mengenal budaya masyarakat
Indonesia
sangat ramah tamah
sebelumnya. Belum lagi semangat
kegotong royongan yang semakin hilang ditengah kehidupan yang dapat dipenuhi
dengan menggunakan uang dan teknologi mesin kondisi ini menjadi sangat
memprihatinkan ketika kita mengingat
kehidupan leluhur bangsa Indonesia,
b.kehidupan
Konsumeristik dan Hedonis
Di
satu sisi, globalisasi membawa dampak yang positif bagi masyarakat, namun
disisi lain globalisasi dapat menimbulkan dampak negatif seperti dis-orientasi,
dislokasi, atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat, serta semakin merebaknya
gaya hidup konsumerisme dan hedonism saat
ini, konsumerisme tidak hanya terjadi di perkotaan, namun sudah merambah ke
pedesaan. Perilaku
konsumtif anak-anak berdampak pada pergeseran gaya hidup (lifestyle) yang dapat berpengaruh pada kepekaan sifat sosial
mereka, sehingga cenderung mengabaikan dan tidak peduli dengan lingkungan
sosial. Gaya hidup hedonis
yang juga merupakan suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk
mencari kesenangan hidup seperti senang membeli barang mahal yang disenanginya,
dan selalu ingin menjadi pusat perhatian timbul seiring munculnya budaya Konsumerisme. Sebagai bagian dari masyarakat yang berorientasi pada konsumsi, masyarakat
dan remaja tidak saja memenuhi kebutuhannya sesuai apa yang menjadi kebutuhanya.
Namun kenyataanya, mereka mengkonsumsi sesuatu bukan dari segi fungsionalnya
melainkan tren yang sedang berkembang. Dengan budaya konsumerisme ini,
tidak banyak tersedia ruang untuk anak lebih kreatif
dan menciptakan sesuatu, namun mereke cenderung untuk
berperilaku konsumtif.
c.Dekadensi
Moral dan Dehumanisasi
Dekadensi moral di kalangan manusia di
era globalisasi baik itu positif ataupun negatif, itu semua sudah menjadi hal yang umum di tengah-tengah masyarakat
sekarang. anak-anak
muda mudah mengalami dekadensi moral, banyak
faktor penyebabnya
diantaranya media informasi, seperti media cetak dan media elektonik ini yang
berpengaruh besar jika disalah gunakan mulai dari televisi,internet,dsb. Contoh
tayangan televisi yang bertema dunia sekolah, bukanya mengajak penonton
dikalangan remaja untuk giat belajar melainkan mengajari cara bersaingan dalam
berpacaran,hura-hura,dan pergaul bebas, Dimulai dari hal yang terkecil pada
berbicara,berpakaian,dst, yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia hal itu
akan mengurangi keimanan dan berpindah agama karena ingin mengikuti trend
budaya luar. Budaya luar yang bertolak belakang dengan kepribadian orang muslim
yang telah mempengaruhi budaya lokal yang dulu telah menjunjung tinggi moral
agama. Salah satunya adalah “trend fashion ala Korea” yang pengikutnya sebagian
besar orang muslim dari cara berpakaian yang menyimpang sampai hal yang
negatif, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja atau pun tidak sengaja yang
telah menyebar luaskan hal-hal yang merusak moral, sementara ini pencegahanya
terletak dari diri kita sendiri.Hendri
Priono 2014).Kemerosotan moral ini sudah tersebar diseluruh
penjuru mulai
dari kota sampai ke plosok desa akibat budaya negatif dari luar.hal ini adalah salah satu potret pengaruh globalisasi.
Pada kenyataannya terjadi dehumanisasi Secara semantik, dehumanisasi terjadi
tatkala nilai-nilai luhur yang ada dalam teks ideologi, budaya dan agama tidak
lagi berfungsi efektif sebagai pegangan hidup manusia sehari-hari, sehingga
kebudayaan kehilangan dukungan kolektif dan manusia cenderung hidup tanpa basis
keluhuran kebudayaan. Dalam habitat seperti itu, manusia cenderung berperilaku
sebagai serigala satu terhadap yang lain. Moral dan etika kehidupan sangat
rapuh, jati diri tidak terarah
dan martabat
berkembang makin nihil. Kehidupan mengalami kevakuman kultural. Fisik, rasio,
rasa dan hati nurani tidak dalam kondisi seimbang. Dalam kasih sayang terjadi
dehumanisasi karena seseorang itu sudah tidak memiliki nilai dan moral,
sehingga tidak ada lagi kasih sayang. Maka terjadilah pembunuhan antara anak
dan ibu, padahal sejatinya seorang ibu tidak akan mungkin membunuh anak
kandungnya sendiri.
d.lunturnya
budaya musik dan seni tradisonal
Lunturnya musik-musik tradisional,
lunturnya budaya Indonesia dalam film-film lokal, minimnya pentas seni lokal
jika dibandingkan dengan pentas seni kontemporer modern adalah
merupakan bentuk dampak nyata dari hegemoni globalisasi .Hal tersebut mencerminkan bahwa,
globalisasi dapat dengan mudah mengubah nilai-nilai budaya yang sudah ada sebelumnya.
Pada masyarakat, hal ini tentu sangat membahayakan.
Munculnya
arus globalisme yang dalam hal ini bagi sebuah negara yang sedang berkembang akan
mengancam eksistensinya sebagai sebuah bangsa.Sebagai bangsa yang
masih dalam tahap
berkembang kita memang tidak suka dengan globalisasi tetapi kita tidak bisa
menghindarinya. Persoalan
utama Indonesia dalam mengarungi lautan global
ini adalah masih banyaknya kemiskinan, kebodohan dan kesenjangan
sosial yang masih lebar. Dari beberapa persoalan diatas
apabila kita mampu memaknai kembali Pancasila dan kemudian dimulai dari diri kita
masing-masing untuk bisa menjalankan dalam kehidupan sehari-hari, maka
globalisasi akan dapat kita arungi dan keutuhan
NKRI masih bisa terjaga.
C. Konservatif Budaya Lokal sebagai Salah Satu
Alternatif Menghadapi Ancaman Globalisasi dan Westernisasi
Perspektif global merupakan pandangan
yang timbul dari kesadaran bahwa
dalam kehidupan ini segala sesuatu selalu berkaitan dengan isu global. Orang sudah tidak
memungkinkan lagi bisa mengisolasi diri
dari pengaruh global. Manusia merupakan bagian dari pergerakan dunia, oleh karena itu harus
memperhatikan kepentingan sesama warga dunia. Tujuan umum pengetahuan tentang
perspektif global adalah selain untuk menambah wawasan juga untuk menghindarkan
diri dari cara berpikir
sempit, terkotak oleh batas-batas
subyektif, primordial (lokalitas) seperti perbedaan warna kulit, ras, nasionalisme yang sempit, dan
sebagainya.Namun
demikian kita tetap
harus menjaga identitas dan kebudayaan lokal
yang menjadi ciri khas
dari bangsa kita karena ketika terjadi ketidakseimbangan antar dua peradaban
yang berbeda maka upaya mempertahankan identitas diri menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu pentingnya lembaga pendidikan untuk
dijadikan sarana dalam melindungi budaya dan identitas nasional untuk menjadi
perhatian utama setiap warga negara.selain dari pada itu out put dari lembaga
pendidikan harus mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang kreaktif,inonovatif
dan kompetitif.
D.
Mengoptimalkan
Fungsi Keluarga Sebagai Wahana Pembentukan Karakter Religius
Peranan pranata keluarga dalam membentuk
karakter dan pemahaman nilai-nilai budaya adalah sangat penting karena
lingkungan keluarga menjadi tempat pertama seseorang mendapatkan pendidikan.Dengan
mengoptimalkan peranan lembaga keluarga tersebut maka seseorang akan mampu memperoleh
bekal pengetahuan yang dapat dijadikan filterisasi dalam membangun dan
menjalani kehidupan sosialnya ditengah arus globalisasi.Selain itu pembekalan nilai-nilai religius dalam
keluarga akan menjadikan seseorang bersikap kritis dalam berbuat dan
bertingkahlaku dalam masyarakat.Sehingga dengan demikian ditengah keluargalah yang menjadi harapan
utama agar nilai-nilai budaya ketimuran masih dapat diselamatkan.Kondisi
demikian mengambarkan betapa pentingnya pranata keluarga dalam mempersiapkan
generasi penerus bangsa yang berkarakter dengan jiwa nasionalisme yang tinggi
dan berjiwa pancasilais.
Penutup
Perlunya
strategi yang
tepat untuk menghadapi globalisasi dengan gaya kapitalis dan liberalis yaitu
Indonesia harus memiliki system pemerintahan yang kuat dengan
strategi yang
jelas dan memberlakukan hukum yang
mengikat kuat pada individu, masyarakat serta membuat kesepakatan dengan negara-negara
asing dalam melakukan hubungan kerjasama yang jelas tanpa adanya ketimpangan
kebijaksanaan yang justru merugikan satu
negara dan menguntungkan negara lain dalam melakukan kerja sama, dengan memberikan banyak
persyaratan-persyaratan kepada negara
Indonesia sebagai negara penerima bantuan pinjaman dari para pengusung
gaya kapitalis tsb. Strategi hukum yang tepat untuk mengikat pengaruh globalisasi dengan gaya
kapitalis dan liberalis dengan
kebebasan tanpa batasnya, maka perlu adanya aturan-aturan yang tertulis dan mengikat akibat pengaruh
globalisasi yg kebablasan tanpa batas yaitu dengan mengembalikan kehidupan yang pancasilais Dan itu
merupakan kata-kata ampuh untuk meredam semua
kekacauan-kekacauan yang
diakibatkan oleh pengaruh globalisasi dan mengikat individu masyarakat Indonesia yang multikultural yang merupakan kunci maju atau
mundurnya bangsa Indonesia saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Husaini,Adian et al.2004.Tantangan
Sekularisme dan Liberalisasi di Dunia Islam.Surabaya:Khairul Bayan
La
Rianda.2012.Kawasan Ekonomi Khusus dan
Sistem Kapitalisme Global:Domain Ketergantungan dan Kemiskinan Anak Bangsa.Kendari:Unhalu
Press
Priono,
Hendry.masa depan yang sempurna . www,http.m detik com diakses tanggal 6
maret 2014
Radiah,Ita.2001.kapitalisme liberal cengkraman Negara
berkembang.rajawali pers.
Saiful,2010.budaya barat terhadap lunturnya budaya
lokal.www,http.roket com diakses tanggal 8 maret 2014